Rabu, 04 Januari 2012

HAKIKAT MANUSIA DENGAN PENDIDIKAN

Hubungan Hakikat Manusia dengan Pendidikan

A.      ASAS – ASAS KEHARUSAN ATAU PERLUNYA PENDIDIKAN BAGI MANUSIA

1.       Manusia sebagai Makhluk yang Belum selesai
Manusia tidak bisa menciptakan dirinya sendiri, beradanya manusia di dunia bukan juga karena hasil evolusi tanpa Pencipta sebagaimana diyakini penganut  Evolusionisme, melainkan sebagai ciptaan Tuhan. Manusia bereksistensi di dunia. Artinya, manusia secara aktif “mengadakan” dirinya, tetapi bukan dalam arti menciptakan dirinya sebagaimana Tuhan menciptakan manusia, melainkan manusia harus bertanggung jawab atas keberadaan dirinya, ia harus bertanggung jawab menjadi apa atau menjadi apa nantinya. Berinteraksi berarti merencanakan, berbuat, dan menjadi sehingga dengan demikian setiap manusia dapat menjadi lebih atau kurang dari keadaannya. Dalam kalimat lain dapat dinyatakan bahwa manusia bersifat terbuka, manusia adalah makhluk yang belum selesai “mengadakan” dirinya.

2.       Tugas dan Tujuan Manusia adalah Menjadi Manusia
Sejak kelahirannya manusia memang adalah manusia, tetapi tidak secara otomatis menjadi manusia dalam arti dapat memenuhi dalam berbagai aspek hakikat manusia. Sebagai individu atau pribadi, manusia bersifat otonom, ia bebas menentukan pilihannya, tetapi bahwa bebas itu selalu berarti terikat pada nilai-nilai tertentu yang menjadi pilihannya dan dengan kebesan itulah seseorang pribadi wajib bertanggung jawab serta akan diminta pertanggungjawabannya. Sebab itu, tiada makna lain bahwa berada sebagai manusia adalah mengemban tugas dan mempunyai tujuan untuk menjadi manusia, atau bertugas mewujudkan berbagai aspek hakikat manusia. Karl Jaspers menyatakan dalam kalimat: “ to be a man is to become a man”, ada sebagai manusia adalah menjadi manusia (Fuad Hasan,1973). Implikasinya jika seseorang tidak selalu berupaya  untuk menjadi manusia maka ia tidaklah berada sebagai manusia.

3.       Perkembangan Manusia Bersifat Terbuka
Manusia dilahirkan ke dunia dengan mengemban suatu keharusan untuk menjadi manusia, ia diciptakan dengan susunan yang baik dan berbagai potensial untuk menjadi manusia. Namun demikian, dalam kenyataan hidupanya, perkembangan manusia bersifat terbuka  atau mengandung berbagai kemungkinan. Manusia mungkin berkembang menjadi manusia yang sesuai kodrat dan martabat kemanusiaannya atau sebaliknya mungkin pula ia berkembang ke arah yang kurang sesuai bahkan tidak sesuai dengan kodrat dan martabat kemanusiaannya.
Anne Rollet mengemukakan bahwa bahwa sampai tahun 1976 para etnolog telah mencatat kira-kira 60 anak-anak buas di seluruh dunia. Tidak diketahui bagaimana asalnya anak-anak tersebut hidup dan dipelihara oleh binatang. Ada yang hidup dengan serigala, kijang, kera. Anak-anak tersebut berperilaku layaknya hewan tidak berpakaian, agresif untuk menyerang dan menggigit, tidak dapat tertawa, ada yang tidak dapat berjalan tegak dan tidak berbahasa layaknya manusia.
Jadi kemampuan berjalan dengan dua kaki, kemampuan berbicara,kemampuan berperilaku lainnya yang lazim dilakukan manusia yang berkebudayaan, tidak di bawa manusia sejak kelahirannya. Demikian halnya dengan kesadaran akan tujuan hidupnya, kemampuan hidup sesuai individualitas, sosialitasnya, tidak di bawa manusia sejak kelahirannya, melainkan harus diperoleh manusia melalui belajar, melalui bantuan berupa pengajaran, bimbingan, latihan, dan kegiatan lainnya yang dapat dirangkum dalan istilah pendidikan. “ Man can become man through education only”, demikian pernyataan Immanuel Kant dalam teori pendidikannya.

B.      ASAS – ASAS KEMUNGKINAN PENDIDIKAN

1.       Asas Potensialitas
Telah dikemukakan berbagai potensi yang dimiliki oleh manusia yang memungkinkan mampu menjadi manusia, tetapi itu memerlukan suatu sebab, yaitu pendidikan. Contohnya, dalam aspek kesusilaan, manusia diharap mampu berperilaku sesuai dengan norma-norma moral dan nilai-nilai moral yang diakui. Ini adalah salah satu tujuan pendidikan atau sosok manusia ideal berkenaan dengan dimensi moralitas. Apakah manusia dapat atau mungkin dididik untuk mencapai tujuan tersebut? Jawabannya adalah dapat atau mungkin, sebab manusia memiliki potensi untuk berbuat baik.

2.       Asas Dinamika
Manusia selalu aktif baik dalam aspek fisiologik maupun spiritualnya. Ia selalu ingin mengejar segala hal yang lebih dari apa yang telah mereka dapatkan. Ia berusaha mengaktualisasikan diri menjadi manusia yang ideal, baik dalam rangka interaksi atau komunikasinya. Jadi tujuan dari sudut pendidik, pendidikan dilakukan dalam rangka membantu manusia (peserta didik) agar menjadi manusia ideal. Di pihak lain manusia itu sendiri memiliki dinamika untuk menjadi manusia ideal. Karena itu, dimensi dinamika mengiplikasikan bahwa manusia akan mampu untuk dididik.

3.       Asas Individualitas
Individu antara lain memiliki kesendirian, ia berbeda dengan yang lainnya yang memiliki keinginan untuk menjadi dirinya sendiri. Pendidikan dilaksanakan untuk membantu manusia dalam mengaktualisasikan atau mewujudkan dirinya.

4.       Asas Sosialitas
Manusia itu makhluk sosial yang selalu membutuhkan orang lain. Dengan kehidupan bersama dengan sesamanya akan terjadi hubungan timbal baalik. Kenyataan ini memberikan kemingkinan manusia untuk dapat dididik. Sebab, pendidikan itu dapat disampaikan melalui interaksi antar sesama manusia dan dari interaksi itulah manusia dapat belajar secara langsung.

5.       Asas Moralitas
Manusia memiliki kemampuan untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, karena pada dasarnya manusia memiliki potensi untuk berperilaku baik atau buruk. Pendidikan hakikatnya bersifat normatif, artinya dilaksanakan dalam nilai dan sistem tertentu serta diarahkan untuk menjadi manusia yang ideal, yaitu manusia yang sesuai dengan nilai atau norma yang bersumber dari agama maupun budaya yang diakui.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar